Pemilihan metode komposisi campuran beton
Seperti yang telah diketahui bahwa setiap tahap dalam pembuatan beton
adalah penting dan berkaitan satu sama lain Dalam tahap yang kedua menentukan
metode komposisi beton menjadi penting karena setiap komposisi yang kita
kurangi atau tambah akan mempengaruhi kekuatan beton yang kita buat.
Seperti yang telah dikemukakan dalam tahap pertama, beton terdiri
atas semen, agregat, air, bahan tambahan mineral dan kimia. Dalam membuat
komposisi ada tata cara yang baik. Sama halnya dengan tahap-tahap yang lain.
Setelah kita menyelesaikan tahap yang pertama. Muncul pertanyaan seberapa
banyak komposisi atau perbandingan-perbandingan bahan-bahan penyusun agar kuat
dan murah. Bagaimana agar tidak mengalami susut. Dan bagaimana agar mudah
diolah.
Beberapa perbandingan yang digunakan biasanya adalah 1:2:3. 1 untuk
semen, 2 untuk agregat halus dan 3 untuk agregat kasar. Namun dalam teorinya,
beton memiliki batasan-batasan.
Batasan-batasan itu antara lain:
· Jumlah agregat
biasanya mencapai 65%-75% untuk beton biasa. 40%-45% untuk agregat kasar dan
25%-30% untuk agregat halus.
· Jumlah semen
berkisar 11%-12% dari jumlah berat.
· Sisanya berupa air
dan bahan tambahan berkisar 9%-11%.
Di awal sudah dikemukakan pula, berbeda karakteristik beton maka
berbeda pula cara memperlakukannya termasuk dalam tahap yang kedua ini. Sebagai
contoh beton yang dapat memadat sendiri (SCC). Komposisinya berbeda dengan yang
lain karena membutuhkan nilai keenceran yang tinggi maka agregat kasar dibuat
lebih sedikit dan agregat halus dibuat lebih banyak. Perbandingan antara
agregat kasar dan agregat halus adalah 35% : 65% atau 40% : 60%. Juga
diperlukan bahan tambahan seperti silika fume yang berbanding terbalik dengan
jumlah semen. Diperlukan bahan tambahan aditif untuk memperdaya beton yang kita
buat.
Intinya dalam pembuatan komposisi campuran beton adalah melanjutkan
tahap pertama lalu sesuai dengan karakteristik bahan-bahan, membuat komposisi
yang sesuai pula, yakni :
1.
Jika nilai
penyerapan agregat tinggi perlu diperhatikan nilai banyaknya air yang akan
ditambahkan.
2.
Jika diberikan bahan
addmixture maka juga perlu diteliti bagaimana karakteristik bahan addmixture.
Misal untuk superpalstisizer, tidak perlu membutuhkan banyak air karena
karakteristik superpalstisizer dapat memperencer campuran beton saat pembuatan.
3.
Nilai lumpur akan
mempengaruhi kekuatan beton.
4.
Semakin banyak
komposisi agregat halus akan memperencer campuran beton. Sebaliknya semakin
banyak agregat kasar akan semakin sukar diolah.
5.
Dan sebagainya.
Lalu apa yang akan dihasilkan pada tahap yang kedua ini akan
menentukan apa yang akan dilakukan pada tahap yang ketiga. Sehingga perlu
diteliti secara benar untuk komposisinya. Jangan ada yang salah.Dan diperiksa
ulang beberapa kali. Karena tidak cukup satu kali di koreksi.
Ingat komposisi yang dibuat akan menghasilkan beton yang dipakai masyarakat.
Sedikit kesalahan akan mempengaruhi kehidupan masyarakat tersebut.
No comments:
Post a Comment