Tahap 1: pembuatan Beton
Tahap paling awal yang dilaksanakan dalam pembuatan beton adalah pemilihan bahan-bahan penyusun. Pemilihan bahan-bahan penyusun yang baik akan menghasilkan beton yang baik pula.
Tahap paling awal yang dilaksanakan dalam pembuatan beton adalah pemilihan bahan-bahan penyusun. Pemilihan bahan-bahan penyusun yang baik akan menghasilkan beton yang baik pula.
Lazimnya dalam masyarakat. Semakin baik maka semakin mahal tidak
terlalu berlaku di dalam dunia beton. Baik juga bisa berarti murah dan baik
juga bisa berarti mahal. Tergantung pada permintaan dan trik-trik pekerja di
lapangan. Yang terpenting tidak mengabaikan standar pekerjaan.
Bahan-bahan penyusun beton antara lain:
1. Semen Portland,
Ada beberapa jenis semen portland yakni :
a.
Semen tipe I, semen
biasa umum untuk pembangunan perumahan massal.
b.
Semen tipe II, tipe
semen yang tahan terhadap garam, biasa digunakan untuk membangun konstruksi di daerah pinggiran pantai.
c.
Semen tipe III,
sangat tepat bagi kontraktor yang menginginkan kekuatan di awal (early high
strenght).
d.
Semen tipe IV, tipe
yang menginginkan adanya panas yang rendah untuk memperlambat pengerasan. Biasa
dipakai di daerah yang mempunyai suhu ekstrim.
e.
Semen tipe V, tipe
semen yang tahan terhadap sulfat.
2. Agregat,
Agregat adalah butiran mineral yang merupakan hasil disintegrasi
alami batu-batuan atau juga berupa hasil mesin pemecah batu dengan memecah batu
alami.
Agregat merupakan salah satu bahan pengisi pada beton, namun
demikian peranan agregat pada beton sangatlah penting. Kandungan agregat dalam
beton kira-kira mencapai 65%-75% dari volume beton. Agregat sangat berpengaruh
terhadap sifat- sifat beton, sehingga pemilihan agregat merupakan suatu bagian
penting dalam pembuatan beton. agregat dibedakan menjadi dua macam yaitu
agregat halus dan agregat kasar yang didapat secara alami atau buatan.
Untuk menghasilkan beton dengan kekompakan yang baik, diperlukan
gradasi agregat yang baik. Gradasi agregat adalah distribusi ukuran kekasaran
butiran agregat. Gradasi diambil dari hasil pengayakan dengan lubang ayakan 10
mm, 20 mm, 30 mm dan 40 mm untuk kerikil. Untuk pasir lubang ayakan 4,8 mm, 2,4
mm, 1,2 mm, 0,6 mm, 0,3 mm dan 0,15 mm.
Penggunaan bahan batuan dalam adukan beton berfungsi :
·
Menghemat Penggunaan
semen Portland,
·
Menghasilkan
kekuatan yang besar pada betonnya,
·
Mengurangi susut
pengerasan,
·
Mencapai susunan
pampat beton dengan gradasi beton yang baik,
·
Mengontrol
workability adukan beton dengan gradasi bahan batuan baik. (Antono, 1995)
3. Air.
Air yang digunakan pada pembuatan beton ialah yang dapat diminum.Yang
dimaksud di sini adalah air yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
·
Tidak mengandung
lumpur atau benda melayang lainnya lebih dari 2 gr/ltr.
· Tidak mengandung
garam-garam yang dapat merusak beton (asam, zat organik) lebih dari 15 gr/ltr,
·
Tidak mengandung
Klorida (Cl) lebih dari 0,5 gr/ltr,
·
Tidak mengandung
senyawa sulfat lebih dari 1 gr/ltr . (Tjokrodimulyo, 1992)
4. Bahan tambahan mineral kimia,
misalnya Superplastisizer atau Hiperpalstisizer yang dapat
memperencer campuran beton dan pengerasan secara cepat. Silika fume atau nano
silika yang dapat menaikkan kekuatan beton secara signifikan. Fly ash, bahan
mineral yang dapat menggantikan peran semen denga harga yang relatif
terjangkau.
Setelah mengevaluasi apa saja bahan-bahan yang akan digunakan. Maka
perlu adanya pemeriksaan bahan yang dilakukan di labolatorium. Hal ini menjadi
penting karena untuk mengetahui apakah bahan-bahan yang kita pilih sudah sesuai
standar dan dapat digunakan untuk campuran beton.
Standar-standar itu antara lain :
1. ASTM C33; Standar spesifikasi agregat beton.
2. ASTM C40; Standar kadar organik dalam pasir.
3. ASTM C142; Standar kadar lumpur dan lempung
dalam agregat.
4. ASTM C29;
5. ASTM C127; BJPA agregat kasar.
6. ASTM C128; BJPA agregat halus.
7. ASTM C136;
8. ASTM C192; Membuat dan merawat beton uji di
Labolatorium.
9. ASTM C143; test untuk slump dan cemen portland.
10. ASTM C39; Uji kuat tekan beton silinder.
11. BS 882; Batas gradasi untuk agregat halus.
12. SK SNI T-15-1990-03; Tata cara pembuatan
campuran beton normal.
13. SK SNI M-26-1990-F; Metode pengambilan contoh
untuk campuran beton segar.
14. SK SNIM-62-1990-03; Metode pembuatan dan
perawatan benda uji beton di labolatorium.
Beton sendiri sudah mengalami hingga kemajuan yang sangat beragam.
Hal ini dikarenakan adanya tuntutan dari masyarakat itu sendiri yang
menginginkan kualitas dan percepatan pengerjaan beton agar lebih praktis.
Contoh yang paling real adalah beton yang dapat memadatkan sendiri tanpa adanya
bantuan vibrator (SCC) dan beton ringan.
Akan tetapi dalam pembahasan kali ini hanya akan dijelaskan
bagaimana pembuatan beton biasa yang baik dan benar menurut standar yang
berlaku. Karena pada kenyataannya setiap beton mempunyai kaakteristik yang
berbeda, maka harus diperlakukan secara berbeda pula.
No comments:
Post a Comment