Sunday, 9 June 2013

Teknologi Bahan Konstruksi Beton 2

Tahap 1: pembuatan Beton
Tahap paling awal yang dilaksanakan dalam pembuatan beton adalah pemilihan bahan-bahan penyusun. Pemilihan bahan-bahan penyusun yang baik akan menghasilkan beton yang baik pula.
Lazimnya dalam masyarakat. Semakin baik maka semakin mahal tidak terlalu berlaku di dalam dunia beton. Baik juga bisa berarti murah dan baik juga bisa berarti mahal. Tergantung pada permintaan dan trik-trik pekerja di lapangan. Yang terpenting tidak mengabaikan standar pekerjaan.
Bahan-bahan penyusun beton antara lain:
1.    Semen Portland,
Ada beberapa jenis semen portland yakni :
a.    Semen tipe I, semen biasa umum untuk pembangunan perumahan massal.
b.    Semen tipe II, tipe semen yang tahan terhadap garam, biasa digunakan untuk membangun konstruksi di daerah pinggiran pantai.
c.    Semen tipe III, sangat tepat bagi kontraktor yang menginginkan kekuatan di awal (early high strenght).
d.    Semen tipe IV, tipe yang menginginkan adanya panas yang rendah untuk memperlambat pengerasan. Biasa dipakai di daerah yang mempunyai suhu ekstrim.
e.    Semen tipe V, tipe semen yang tahan terhadap sulfat.

2.    Agregat,
Agregat adalah butiran mineral yang merupakan hasil disintegrasi alami batu-batuan atau juga berupa hasil mesin pemecah batu dengan memecah batu alami.
Agregat merupakan salah satu bahan pengisi pada beton, namun demikian peranan agregat pada beton sangatlah penting. Kandungan agregat dalam beton kira-kira mencapai 65%-75% dari volume beton. Agregat sangat berpengaruh terhadap sifat- sifat beton, sehingga pemilihan agregat merupakan suatu bagian penting dalam pembuatan beton. agregat dibedakan menjadi dua macam yaitu agregat halus dan agregat kasar yang didapat secara alami atau buatan.
Untuk menghasilkan beton dengan kekompakan yang baik, diperlukan gradasi agregat yang baik. Gradasi agregat adalah distribusi ukuran kekasaran butiran agregat. Gradasi diambil dari hasil pengayakan dengan lubang ayakan 10 mm, 20 mm, 30 mm dan 40 mm untuk kerikil. Untuk pasir lubang ayakan 4,8 mm, 2,4 mm, 1,2 mm, 0,6 mm, 0,3 mm dan 0,15 mm.

Penggunaan bahan batuan dalam adukan beton berfungsi :
·         Menghemat Penggunaan semen Portland,
·         Menghasilkan kekuatan yang besar pada betonnya,
·         Mengurangi susut pengerasan,
·         Mencapai susunan pampat beton dengan gradasi beton yang baik,
·         Mengontrol workability adukan beton dengan gradasi bahan batuan baik. (Antono, 1995)

3.    Air.
Air yang digunakan pada pembuatan beton ialah yang dapat diminum.Yang dimaksud di sini adalah air yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
·         Tidak mengandung lumpur atau benda melayang lainnya lebih dari 2 gr/ltr.
·        Tidak mengandung garam-garam yang dapat merusak beton (asam, zat organik) lebih dari 15 gr/ltr,
·         Tidak mengandung Klorida (Cl) lebih dari 0,5 gr/ltr,
·         Tidak mengandung senyawa sulfat lebih dari 1 gr/ltr . (Tjokrodimulyo, 1992)

4.    Bahan tambahan mineral kimia,
misalnya Superplastisizer atau Hiperpalstisizer yang dapat memperencer campuran beton dan pengerasan secara cepat. Silika fume atau nano silika yang dapat menaikkan kekuatan beton secara signifikan. Fly ash, bahan mineral yang dapat menggantikan peran semen denga harga yang relatif terjangkau.

Setelah mengevaluasi apa saja bahan-bahan yang akan digunakan. Maka perlu adanya pemeriksaan bahan yang dilakukan di labolatorium. Hal ini menjadi penting karena untuk mengetahui apakah bahan-bahan yang kita pilih sudah sesuai standar dan dapat digunakan untuk campuran beton.
Standar-standar itu antara lain :
1.    ASTM C33; Standar spesifikasi agregat beton.
2.    ASTM C40; Standar kadar organik dalam pasir.
3.    ASTM C142; Standar kadar lumpur dan lempung dalam agregat.
4.    ASTM C29;
5.    ASTM C127; BJPA agregat kasar.
6.    ASTM C128; BJPA agregat halus.
7.    ASTM C136;
8.    ASTM C192; Membuat dan merawat beton uji di Labolatorium.
9.    ASTM C143; test untuk slump dan cemen portland.
10.  ASTM C39; Uji kuat tekan beton silinder.
11.  BS 882; Batas gradasi untuk agregat halus.
12.  SK SNI T-15-1990-03; Tata cara pembuatan campuran beton normal.
13.  SK SNI M-26-1990-F; Metode pengambilan contoh untuk campuran beton segar.
14.  SK SNIM-62-1990-03; Metode pembuatan dan perawatan benda uji beton di labolatorium.

Beton sendiri sudah mengalami hingga kemajuan yang sangat beragam. Hal ini dikarenakan adanya tuntutan dari masyarakat itu sendiri yang menginginkan kualitas dan percepatan pengerjaan beton agar lebih praktis. Contoh yang paling real adalah beton yang dapat memadatkan sendiri tanpa adanya bantuan vibrator (SCC) dan beton ringan.

Akan tetapi dalam pembahasan kali ini hanya akan dijelaskan bagaimana pembuatan beton biasa yang baik dan benar menurut standar yang berlaku. Karena pada kenyataannya setiap beton mempunyai kaakteristik yang berbeda, maka harus diperlakukan secara berbeda pula.

No comments:

Post a Comment